Kamis, 26 Mei 2016

kucing langka kalimantan


Menguak Si Langka Kucing Batu di Pedalaman Hutan Kalimantan                                                              (www.hewankhaskalimantan.com)
Kucing batu atau disebut marbled cat (pardofelis marmorata) sangat dicari oleh para peneliti. Lewat kamera pengintai, hewan langka yang hidup di Pulau Kalimantan dan Sumatera itu akhirnya bisa terekam penampakannya. Begini ceritanya.
para peneliti selama ini kesulitan untuk bisa menemukan kucing batu. Pergerakannya yang gesit dan lincah di saat gelap (hewan nokturnal yang bergerak mencari makan saat malam), membuat informasi tentang si kucing belum terlalu banyak, terutama soal populasinya. Karena itu, tim peneliti memasang kamera pengintai.

Lewat proses pemantauan yang berlangsung berbulan bulan di pedalaman hutan Kalimantan, akhirnya hewan berkulit seperti macan tutul itu bisa terekam kamera. Para peneliti menemukan hewat tersebut di area hutan 'perawan', hutan yang sudah dieksploitasi manusia dan hutan tinggi di pegunungan.
Data ini cukup penting untuk mengetahui cara perlindungan bagi hewan langka tersebut. Sekadar informasi, kucing batu sudah masuk dalam 'daftar merah' atau terancam punah di International Union for Conservation of Nature's (IUCN).
Selain untuk perlindungan, para peneliti juga penasaran dengan perilaku kucing batu. Terutama jenis makanannya. Andrew Hearn, kandidat doktoral dari Wildlife Conservation Research Unit di University of Oxford Inggris menyatakan, dalam penelitian itu memperlihatkan kucing batu sedang memburu seekor burung dan primata kecil.
Beberapa informasi soal kucing batu yang diketahui selama ini:

- Panjang tubuh kucing batu berkisar antara 45-62 cm dengan panjang ekor 35-55 cm dan tubuh seberat 2-5 kg.

- Kucing batu pun memiliki ekor yang panjang dan berbulu sangat tebal. Ukuran dan bentuk ekor ini mempunyai fungsi sebagai penjaga keseimbangan ketika kucing batu bergerak di dahan atau ranting pohon. Selain itu, kedua pasang kakinya besar dan kokoh.

- Populasi kucing batu tersebar di kawasan Indomalaya, terbentang dari timur India, Nepal, China sampai Asia Tenggara di Pulau Sumatera dan Kalimantan.

- Di seluruh dunia populasinya diperkirakan sekitar 10.000 ekor.


(www.hewankhaskalimantan.com)


Kucing batu atau Pardofelis marmorata merupakan salah satu spesies kucing liar yang dimiliki Indonesia. Selain ukurannya yang kecil, seukuran kucing rumahan (domestik) kucing batu (Pardofelis marmorata) terkenal sebagai kucing yang gesit terutama saat kucing batu berada di atas pohon.
Selain gesit, kucing batu juga terkenal dengan pola bulunya yang indah. Lantaran bulunya ini pula spesies kucing liar ini banyak diburu terutama untuk diambil kulitnya sebagai hiasan. Kucing batu dalam bahasa Inggris mempunyai nama Marbled Cat. Sedangkan nama hewan ini dalam bahasa latin adalah Pardofelis marmorata.

Buah kepayang


(www.buahkhaskalimantan.com)
buah kepayang yang bahasa daerahnya adalah buah fayang, kita hanya kenal mabuk kepayang, tetapi tidak tahu kepayang itu apa, nah kepayang itu adalah buah, dari biji buah ini ada isi setelah melalui proses pengolahan, maka isi dalam biji buah ini bisa dimakan, hingga keenakan, sampai sampai lupa pekerjaan lain karena mabuk keenakan makan kepayang ini.biji buah ini biasa dibuat lauk oleh masyarakat dayak.
yang bisa dimakan dari buah ini adalah bijinya.Buah kepayang atau yang lebih sering di kenal dengan nama keluwek adalah buah yang sering di gunakan sebagai warna dalam masakan, contohnya adalah rawon.


 
Tahukah Anda: Buah Pucung/Keluwek/Kepayang (Racun+Bumbu)
(www.buahkhaskalimantan.com)


Semua bagian tanaman kepayang—sebutan kluwak di masyarakat Melayu—itu beracun dan memabukkan. Istilah mabuk kepayang lahir dari tanaman yang tumbuh lurus itu. Dahulu masyarakat suku Dayak dan Banjar di Kalimantan kerap meremas-remas kulit kayu kepayang lalu menyebarkannya di sungai atau rawa sebagai racun. Dalam hitungan menit, ikan lemas sehingga mudah ditangkap. Remasan buah, daun, dan kulit batang juga menjadi pengawet ikan yang membentenginya dari gempuran mikroba perombak.

Riset Balai Penelitian Veteriner, Bogor, menyebut biji kluwak mengandung 1.000—2.000 ppm asam sianida tergantung kondisi biji. Biji yang keras mengandung 2.000 ppm, biji lunak 1000 ppm, dan biji berair 500 ppm. Yang disebut terakhir setara asam sianida pada daun kepayang. Asam sianida dalam jumlah kecil saja 2,5—5 ppm dapat mematikan hampir semua spesies hewan dalam beberapa menit pascakonsumsi. Sementara kadar piretrin pada kepayang mencapai 5,89%.

Pada rawon biji kluwak aman karena sebelumnya mengalami proses fermentasi alami.

Di kalimantan sendiri terutama di daerah Kaliman Tengah, keluwek atau kepayang tersebut bisa di jadikan sayur sebagai teman makan. Buah kepayang atau keluwek terebut di gunakan untuk pewarna masakan rawon, butuh proses untuk menjadikan keluwek tersebut menjadi hitam, karena dari isi keluwek yang hitam itulah di gunakan utuk pewarna alami masakan rawon.

Keluwek harus diolah dan diproses dengan benar terlebih dahulu agar dapat dimakan atau di jadikan sayur, karena kalau tidak bisa mengolah buah tersebut dengan baik dan benar maka akan bisa menyebabkan keracunan kalau dimakan.

Buah kepayang atau keluwek tersebut yang bisa dimanfaatkan atau di pakai hanyalah bijinya, karena buah tersebut mempunyai biji yang banyak dan biji tersebut cukup lumayan besar, seperti seukuran dengan jengkol. Berikut adalah tahap pengolahan kepayang atau buah keluwek.

1. Buah kepayang yang di kupas dan dibusukkan. Harus dibusukkan untuk diambil bijinya.
2. Setelah dibusukkan, biji dibersihkan dari serabut yang menempel.
3. Setelah bersih di rendam di dalam air selama kurang lebih tiga hari, karena untuk menghilangkan getah, serta menetralisir racun yang ada di biji kepayang tersebut, air rendaman hendaknya di ganti kurang lebih setiap 6 jam sekali, agar rasa pahitnya hilang.

Kegunaan lain: Cara Gampang Buat Pestisida dari buah Kepayang

Sebanyak 250—300 g ditumbuk atau diremas hingga hancur.
Campur dengan 10 liter air dan 10 g detergen kemudian endapkan sehari semalam
Saring cairan dengan kain.
4. Siap dilarutkan dengan dosis 500 liter per hari.

Buah kalimantan

  ini adalah buah Lai, Buah ini anda bisa dapatkan hanya di Kalimantan
 Buah ini Serupa tapi Tak sama dengan buah durian.

                    (www.buahkhaskalimantan.com)

Tidak lengkap jika kunjungan kekalimantan khususnya malinau,samarinda dan balikpapan, bila tidak menikmati sajian Lai, durian lokal Kalimantan.  Begitu kata seorang teman yang mengetahui saya telah bolak balik ke Balikpapan maupun Samarinda untuk tujuan tugas kantor tapi belum sekalipun merasakan buah lokal Kalimantan tersebut.  Pasalnya, dalam setiap kunjungan ke tanah Borneo tersebut selalu saja teman – teman di Balikpapan dan Samarinda mengatakan kalau musimnya Lai belum tiba.  Jadi saya anggap belum beruntung saja.

 
 
              (www.buahkhaskalimantan.com)


Fisiknya sendiri tidak ada bedanya dengan durian kebanyakan.  Namun bila kita cermati, durinya ternyata jauh lebih bersahabat ketimbang durian biasa karena lebih lembut.  Salah seorang teman bahkan sempat menempelkan duri Lai tersebut ke kulit wajahnya, membuktikan kepada saya kalau duri Lai tidak berbahaya.

 
                    (www.buahkhaskalimantan.com)

Lai yang memiliki nama latin Durio Kutejensis (Kutejensis = berasal dari Kutai) sering juga disebut Elai.  Yang paling membuat para penikmatnya takjub adalah warna daging buahnya yang berbeda sekali dengan warna daging buah durian kebanyakan.  Warnanya kuning tua bahkan beberapa ada juga yang oranye muda membuat penikmatnya tidak mampu untuk menahan hasrat untuk mencobanya lagi.

Bagaimana rasanya si durian yang berasal dari Kutai ini?  Sebelum melangkah ke rasa buahnya, saya beritahukan dulu tentang tekstur daging buahnya.  Kalau durian biasa / kebanyakan bertekstur lembut dan cendrung basah, Lai malah kebalikannya.  Anda akan mendapati kalau tekstrur buah khas Kalimantan ini kering dan sedikit liat / keras Legit  Seperti durian biasa yang belum matang / masak.  Aromanya sendiri tidak sekuat durian kebanyakan.   Kbisa dibandingkan fisik Lai dengan Durian Melak.

Bagaimana dengan rasanya ??  Untuk anda penikmat durian rasa Lai tentunya tidak sebanding dengan durian biasa / kebanyakan.  Lai memiliki rasa yang menurut para penikmatnya, kurang nendang bila dibandingkan dengan durian kebanyakan.  Tidak begitu ber-gas dan tidak begitu manis atau pahit sebagaimana rasa durian kebanyakan.  para penikmat kuliner yang pernah mencoba buah ini mengatakan kalau mencicipi Lai ini hingga puluhan biji juga tidak bakal mabuk atau pusing.  Jadi cukup aman bila disantap oleh penderita kolestrol sekalipun.  Begitu katanya.  Saya tidak tahu apakah pendapatnya tersebut berdasarkan hasil penelitian medis atau tidak, namun saya bersyukur sekali di kunjungan saya yang kesekian kalinya ke tanah Borneo ini akhirnya dapat menikmati sajian durian lokal khas Kalimantan, Lai.